Selasa, 14 Desember 2010

Hari-hari ini kita telah memasuki bulan suci Muharram di tahun baru 1432 Hijriah. Seakan tidak terasa, waktu berjalan dengan cepat; pergantian hari, pekan, bulan, dan tahun berlalu silih berganti seiring dengan bergantinya siang dan malam.
Sebagai seorang hamba Allah tentu saja kita dituntut untuk memanfaatkan umur kita dalam rangka beribadah kepada-Nya di segala bulan yang ada, akan tetapi syariat Islam juga mengajarkan kepada kita bahwa ada beberapa bulan yang memiliki keutamaan, karakteristik dan ibadah tertentu yang dianjurkan padanya. Atas dasar itulah Al Imam Ibnu Rajab Al Hanbali rahimahulloh menyusun kitabnya yang berjudul “Lathoif Al Ma’aarif Fiimaa Limawaasimil ‘Aam minal Wazhoif”, kitab beliau ini merinci keutamaan beberapa bulan yang ada beserta amalan-amalan sholeh yang dianjurkan padanya.
Bagaimana dengan bulan Muharram, apa saja keutamaannya dan ibadah apa yang dianjurkan padanya? Semoga tulisan yang ringkas dan sederhana ini bisa memberikan pencerahan bagi anda, wahai para pecinta sunnah Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam.

Jumat, 05 November 2010

Membahas Tentang Polemik Hadits Ahad
Oleh: Abu Shafa Luqmanul Hakim

Muqaddimah
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام علي رسوله الأمين وعلي آله وأصحابه الطاهرين ومن اهتدي بهداهم إلي يوم الدين, أما بعد :
            Ikhwah yang dirahmati Allah, salah satu karakteristik ahlus sunnah wal jamaah dalam manhajul istidlal[1] adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Nashir bin Abdul Karim al-Aql dalam sebuah risalahnya:
كل ما صحّ من سنة رسول الله وجب قبوله والعمل به، وإن كان آحاداً في العقائد وغيرها
Artinya: Seluruh yang shahih dari hadits Rasulullah wajib untuk diterima dan diamalkan baik yang berkaitan dengan aqidah ataupun selainnya, meski hadits tersebut ahad.[2]
Hal ini merupakan bukti nyata dari ketaatan yang sempurna kepada Nabi Muhammad –shallallahu 'alaihi wasallam-, dan sebagai aplikasi ungkapan cinta kita yang murni kepada beliau, yang tentunya merupakan implementasi nyata bagi syahadat yang senantiasa terlafadz dalam lisan basah kita "Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah".
Sebuah bait Syair dengan sangat fashih terlantunkan:
لو كان حبّك صادقا لأطعته          فإن المحبّ لمن يحبّ مطيع
Artinya: Seandainya cintamu sejati niscaya engkau akan mematuhinya, sesungguh sang pecinta akan patuh kepada yang dicintai.[3]

Sabtu, 02 Oktober 2010

ABU HURAIRAH,
 SANG PERIWAYAT ISLAM YANG TERDHALIMI
Bagian II
Oleh : Abu Shafa Luqmanul Hakim, Lc

Ketiga: Faktor Yang Menjadikan Beliau Banyak Meriwayatkan Hadits
            Pembaca yang budiman, adalah merupakan hal yang aksiomatik bagi kita bahwa untuk meraih sebuah kesuksesan dibutuhkan upaya dan usaha yang tidak kecil, dibutuhkan pula pengorbanan yang tidak bisa dipandang dengan sebelah mata, dan yang lebih urgen dari semua itu adalah curahan taufiq dan hidayah dari Allah –subhanahu wa ta'ala-, inilah sunnatullah yang telah ditetapkan oleh Allah bagi sekalian makhluqNya.
            Ilmu merupakan sebuah keutamaan dan kemuliaan, tentunya berdasarkan "kaedah" yang kami telah jelaskan di atas, dibutuhkan kesungguhan dan keletihan dalam menuntutnya, harus dibekali keuletan dan kesabaran bagi yang ingin berhias dengannya, hal ini bukan sesuatu yang aneh bagi para ulama kita, olehnya betapa banyak untaian kata-kata bijak yang keluar dari lisan hikmah mereka, beberapa untaian perkataan di bawah ini adalah buktinya:
Abdullah bin 'Abbas –radhiyallahu 'anhu- berkata:
ذللت طالبا فعززت مطلوبا
Artinya: aku letih ketika menuntut ilmu maka aku mulia dengannya [menjadi tujuan rihlah  para penuntut ilmu].