Tampilkan postingan dengan label Syarah Hadits. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syarah Hadits. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 April 2013

Karya: DR. AMIN BIN ABDULLAH ASY SYAQAWY
Dikutip dari : “Tiga Hal Yang Mengikuti Jenazah” (www.islamhouse.com)
     Segala puji hanya bagi Allah subhanahu wa ta’ala, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah Muhammad shallallohu alaihi wasallam, dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan -Nya.. Amma Ba’du: Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan di dalam kitab shahihnya dari hadits Dari Anas bin Malik radhiyallohu ‘anhu bahwa Nabi Muhammad shallallohu alaihi wasallam bersabda, 
« يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ ». 
Mayit itu diikuti oleh tiga golongan, akan kembali dua golongan dan satu golongan akan tetap menemaninya, dia akan diikuti oleh keluarganya, hartanya dan amalnya. Maka keluarga dan hartanya akan kembali pulang sementara amalnya akan tetap menemaninya”. Hadits ini telah dijelaskan oleh Al-Hafiz Ibnu Rajab Al-Hambali di dalam risalah yang sangat berharga, aku merangkum penjelasannya dalam bahasan yang singkat ini: 

Rabu, 17 April 2013


Oleh : Abu Shofwan Maulana Laeda, Lc
(Mahasiswa S-2 di Universitas Islam Medinah, Jurusan ‘Ulum Al Hadits)

Bismillahirrahmaanirrahim…
Semoga shalawat serta salam tercurahkan atas nabi kita Muhammad, keluarga, dan segenap sahabatnya, amin.

Tulisan ini berasal dari beberapa catatan pribadi tatkala membaca sebuah kitab yang berjudul "Al Jaddul Hatsis Fi Bayani maa laisa bihadits " yang disusun oleh salah seorang ulama hadis abad-12 H yang bernama Syaikh Ahmad bin Abdulkarim al 'Amiri Al Ghazzi rahimahullah yang wafat pada tahun  1143 H. Kitab tersebut mencakup banyak ucapan yang sering dianggap oleh sebagian muslim sebagai sebuah hadis. Ketika membaca kitab ini, saya memilah beberapa catatan ungkapan darinya, dan diantara catatan tersebut adalah sebagaimana yang tertera dibawah ini dengan menyertakan halaman dan nomor hadis yang saya nukilkan dari kitab tersebut. Semoga bermanfaat ,amin.

Rabu, 23 Januari 2013



حديث أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي أَوْ عَلَى النَّاسِ لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ صَلاَةٍ
أخرجه البخاري في: 11 كتاب الجمعة: 8 باب السواك يوم الجمعة
 142. Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Andaikan aku tidak kuatir memberatkan pada ummatku (atau pada orang orang) pasti aku perintahkan (wajibkan) atas mereka bersiwak (gosok gigi) tiap akan shalat. (Bukhari, Muslim).

حديث أَبِي مُوسى قَالَ: أَتَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَوَجَدْتُهُ يَسْتَنُّ بِسِوَاكٍ بِيَدِهِ، يَقُولُ: أُعْ أُعْ وَالسِّوَاكُ فِي فِيهِ كَأَنَّهُ يَتَهَوَّعُ أخرجه البخاري في: 4 كتاب الوضوء: 73 باب السواك
 143. Abu Musa radhiyallahu anhu berkata: Saya datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka aku dapatkannya sedang bersiwak dengan kayu arak yang ada di tangannya sampai berkata: Uk, uk, (seakan-akan akan tumpah), sedang kayu siwak masih di tangannya seakan akan tumpah. (Bukhari, Muslim).

حديث الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ عَنْ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم، أَنَّهُ خَرَجَ لِحَاجَتِهِ فَاتَّبَعَهُ الْمُغِيرَةُ بِإِدَاوَةٍ فِيهَا مَاءٌ، فَصَبَّ عَلَيْهِ حِينَ فَرَغَ مِنْ حَاجَتِهِ، فَتَوَضَّأَ وَمَسَحَ عَلَى الْخُفَّيْنِ أخرجه البخاري في: 4 كتاب الوضوء: 48 باب المسح على الخفين
157.               Almughirah bin Syu'bah Radhiallahu ‘anhu   berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar untuk berhajat (buang air) maka diikutinya membawakan empat air, dan sesudah selesai dituangkan airnya untuk berwudhu' aan mengusap dua sepatu but (khuf). (Bukhari, Muslim).

حديث الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ: كُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فِي سَفَرٍ، فَقَالَ: يَا مُغِيرَةُ خُذِ الإِدَاوَةَ؛ فَأَخَذْتُهَا، فَانْطَلَقَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم حَتَّى تَوَارَى عَنِّي؛ فَقَضَى حَاجَتَهُ وَعَلَيْهِ جُبَّةٌ شَأْمِيَّةٌ، فَذَهَبَ لِيُخْرِجَ يَدَهُ مِنْ كُمِّهَا فَضَاقَتْ، فَأَخْرَجَ يَدَهُ مِنْ أَسْفَلِهَا، فَصَبَبْتُ عَلَيْهِ فَتَوَضَّأَ وُضُوءَهُ لِلصَّلاَةِ، وَمَسَحَ عَلَى خُفَّيْهِ ثُمَّ صَلَّى أخرجه البخاري في: 8 كتاب الصلاة: 7 باب الصلاة في الجبة الشأمية

158.               Almughirah bin Syu'bah Radhiallahu ‘anhu berkata: Ketika aku bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bepergian, lalu 'Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: Hai Mughirah bawakan tempat air, maka aku bawa dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi sehingga sembunyi daripadaku untuk buang air, sedang memakai jubbah syamiyah, kemudian ketika akan mengeluarkan lengan tangan tidak dapat karena sempit lengan bajunya, sehingga dikeluarkan dari dalam, maka saya tuangkan air untuknya untuk wudhu' dan mengusap kedua sepatu butnya (khufnya). (Bukhari, Muslim).

حديث جَرِيرٍ بْنِ عَبْدِ اللهِ بَالَ ثُمَّ تَوضَّأَ وَمَسَحَ عَلَى خُفَّيْهِ ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى، فسُئِلَ فَقَالَ: رَأَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم صَنَعَ مِثْلَ هذَا أخرجه البخاري في: 8 كتاب الصلاة: 25 باب الصلاة في الخفاف
155.               Jarir bin Abdullah Radhiallahu anhu kencing kemudian ia wudhu' dan mengusap kedua sepatunya, kemudian berdiri shalat, dan ketika ditanya ia berkata: Saya telah melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuat seperti itu. (Bukhari, Muslim).

حديث حُذَيْفَةَ، قَالَ: رَأَيْتُنِي أَنَا وَالنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم نَتَمَاشَى، فَأَتَى سُبَاطَةَ قَوْمٍ خَلْفَ حَائِطٍ فَقَامَ كَمَا يَقُومُ أَحَدُكُمْ، فَبَالَ، فَانْتَبَذْتُ مِنْهُ، فَأَشَارَ إِلَيَّ فَجِئْتُهُ، فَقُمْتُ عِنْدَ عَقِبِهِ حَتَّى فَرَغَ أخرجه البخاري في: 4 كتاب الوضوء: 61 باب البول عند صاحبه والتستر بالحائط
156.               Hudzaifah Radhiallahu anhu berkata: Ketika aku berjalan bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi ke tempat sampah di belakang ramah (dinding pagar) lalu berdiri dan kencing, maka aku menjauh daripadanya tetapi dipanggil oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu aku mendekatinya dan berdiri di belakangnya sehingga selesai. (Bukhari, Muslim).

Syarah Kitab hadits al lu'lu' wal marjan
hadits : 125-126
Oleh : Muh. Yusran Anshar, Lc., MA. (Alumni Fakultas Hadits Universitas Islam Madinah)

Syarah Hadits al lu'lu' wal marjan bab 9 Thahara hadits ke 139

Jumat, 05 November 2010

Membahas Tentang Polemik Hadits Ahad
Oleh: Abu Shafa Luqmanul Hakim

Muqaddimah
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام علي رسوله الأمين وعلي آله وأصحابه الطاهرين ومن اهتدي بهداهم إلي يوم الدين, أما بعد :
            Ikhwah yang dirahmati Allah, salah satu karakteristik ahlus sunnah wal jamaah dalam manhajul istidlal[1] adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Nashir bin Abdul Karim al-Aql dalam sebuah risalahnya:
كل ما صحّ من سنة رسول الله وجب قبوله والعمل به، وإن كان آحاداً في العقائد وغيرها
Artinya: Seluruh yang shahih dari hadits Rasulullah wajib untuk diterima dan diamalkan baik yang berkaitan dengan aqidah ataupun selainnya, meski hadits tersebut ahad.[2]
Hal ini merupakan bukti nyata dari ketaatan yang sempurna kepada Nabi Muhammad –shallallahu 'alaihi wasallam-, dan sebagai aplikasi ungkapan cinta kita yang murni kepada beliau, yang tentunya merupakan implementasi nyata bagi syahadat yang senantiasa terlafadz dalam lisan basah kita "Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah".
Sebuah bait Syair dengan sangat fashih terlantunkan:
لو كان حبّك صادقا لأطعته          فإن المحبّ لمن يحبّ مطيع
Artinya: Seandainya cintamu sejati niscaya engkau akan mematuhinya, sesungguh sang pecinta akan patuh kepada yang dicintai.[3]

Senin, 08 Juni 2009

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رضي الله عنهما أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم : « كَانَ يَتَعَوَّذُ مِنْ أَرْبَعٍ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ وَدُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ وَنَفْسٍ لَا تَشْبَعُ »  (رواه النسائي )

Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallohu anhuma bahwasanya Nabi Muhammad shallallohu alaihi wasallam berlindung dari empat perkara: 1) Ilmu yang tidak bermanfaat, 2) Hati yang tidak khusyu’, 3) Doa yang tidak didengar, 4) Jiwa yang tidak kenyang . (HR. Nasaai)

TAKHRIJUL HADITS :

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Nasaai dengan sanad yang shohih dalam As Sunan (Al Mujtaba); Kitab Al Isti’adzah; bab Al Isti’adzah Min Qalbin Laa Yakhsya’ , juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Al-Musnad ; Kitab Musnad Al Muktsirina min Ash Shohabah; Bab Musnad Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash; dan diriwayatkan pula oleh Tirmidzi dalam As Sunan; Kitab Ad Da’awaat ‘an Rasulillah; Bab Maa Jaa fii Jaami’ ad Da’awaat ‘anin Nabi . Hadits yang semakna dengan ini juga diriwayatkan oleh beberapa imam lainnya dari beberapa sahabat Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam namun dengan matan (redaksi) hadits yang sedikit berbeda, diantaranya Imam Muslim dari sahabat Zaid bin Arqam radhiyallohu anhu dengan matan yang lebih lengkap, Ibnu Hibban dalam Shohihnya dari hadits Jabir bin Abdillah radhiyallohu anhuma, Abu Hurairah radhiyallohu anhu juga meriwayatkan hadits semacam ini dan dikeluarkan oleh Abu Daud, Nasaai, Ibnu Majah dan Hakim. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Hakim dalam Al Mustadrak dan Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallohu anhu.

BIOGRAFI SINGKAT SAHABAT PEROWI HADITS

Nama lengkap beliau adalah Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash bin Wa-il bin Hasyim bin Su’aid bin Sahm bin ‘Amr bin Hushaish bin Ka’ab bin Luay Al Qurasyi As Sahmi. Kuniyah beliau yang terkenal adalah Abu Muhammad, ada juga yang mengatakan Abu Abdirrahman dan ada yang menyebut dengan Abu Nushair.
Ayah beliau juga seorang sahabat Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam yang terkenal ‘Amru bin Al ‘Ash radhiyallohu anhu, menurut Imam Muhammad bin Sa’ad bahwa Abdullah bin ‘Amr masuk Islam sebelum ayah beliau dan selisih antara umur beliau dengan umur ayah beliau hanya 12 tahun.
Beliau banyak meriwayatkan hadits dari Nabi Muhammad shallallohu alaihi wa sallam dan menuliskannya dalam buku yang dinamakan dengan Ash Shahifah Ash Shodiqah. Beliau juga terkenal sebagai ahli ibadah dan kisah-kisah tentang ibadah beliau serta semangat beliau dalam beribadah sangat banyak disebutkan dalam buku-buku para ulama yang membicarakan biografi beliau secara lengkap (Sebagai contoh, baca : Al Ishobah (4/165) dan Shifah Ash Shafwah (1/333-335)).
Beliau wafat tahun 65 H dalam usia 72 tahun di negeri Syam, ada juga pendapat lain yang mengatakan beliau wafat di Mekkah, Thoif atau di Mesir, wallohu a’lam.
Semoga Allah senantiasa meridhoi beliau dan merahmatinya.

SYARAH HADITS

Hadits ini menyebutkan diantara isti’adzah yang pernah diucapkan oleh Nabi Muhammad shallallohu alaihi wa sallam. Makna Al Isti’adzah adalah berlindung kepada Allah dari segala sesuatu yang jahat dan ditakuti. Al isti’adzah merupakan salah satu bentuk doa karena itu dia hanya ditujukan kepada Allah dan memalingkan ibadah ini kepada selain Allah termasuk diantara bentuk syirik yang besar.
Dalam hadits ini Nabi Muhammad shallallohu alaihi wa sallam berlindung dari empat perkara :
1) Ilmu yang tidak bermanfaat
Yaitu ilmu yang tidak mendatangkan manfaat bagi pemiliknya bahkan dapat menjadi sebab dirinya akan disiksa di hari kiamat. Pada prinsipnya ilmu dipelajari untuk memberi manfaat bagi kita di dunia dan di akhirat oleh sebab itu Nabi Muhammad shallallohu alaihi wa sallam mengajarkan salah satu dzikir yang dianjurkan untuk dibaca setiap paginya setelah mengerjakan shalat shubuh:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

“Ya Allah aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezki yang baik dan amalan yang diterima” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad) [Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Majah dalam As Sunan; Kitab Iqamah Ash Sholah, Bab Maa yuqalu ba'da At Taslim (925), juga dikeluarkan oleh Imam Ahmad dalam Al Musnad; Kitab Baqi Musnad Al Anshor; Bab Musnad Ummi Salamah. Dalam kedua sanad hadits ini ada kelemahan karena terdapat seorang perowi yang mubham (tidak disebutkan namanya) yaitu Maula Ummi Salamah , namun demikian hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Abdul Qadir dan Syuaib Al Arnouth karena memiliki syahid (pendukung) dalam riwayat Thobrani di Al Mu'jam Ash Shoghir dengan sanad yang shohih , lihat Tahqiq Zaadul Ma'ad ( 2/342)]

Para ulama kita menyebutkan beberapa makna ilmu yang tidak bermanfaat diantaranya :

a. Ilmu yang diharamkan untuk dipelajari seperti ilmu sihir

Allah Azza wa Jalla berfirman (artinya) :

Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia…(QS. Al Baqarah 102)
Ayat ini merupakan salah satu dalil yang disebutkan oleh para ulama kita dalam menetapkan bahwa mempelajari sihir hukumnya haram dan menjerumuskan pelakunya pada kekufuran(lihat Tafsir Al Qurthubi). Imam Ibnu Qudamah rahimahullah menyatakan : “Mempelajari sihir dan mengajarkannya hukumnya haramnya kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat di kalangan para ulama tentang hal ini”(Al Mughni (12/300))

Dan Allah Azza wa Jalla telah menegaskan bahwa ilmu sihir adalah ilmu yang tidak bermanfaat, sebagaimana dalam lanjutan ayat di atas :
“…Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui. …(QS. Al Baqarah 102)
Jika sekadar mempelajarinya sudah merupakan kekufuran maka apatah lagi mengajarkan dan menyebarkan ilmu tersebut. Namun akhir-akhir ini ilmu sihir kembali diminati oleh banyak orang bahkan semakin dipromosikan dan dikomersialkan lewat berbagai media massa baik itu cetak maupun elektronik. Para dukun, tukang sihir, paranormal dan yang sejenisnya didatangi dari berbagai tempat yang sangat jauh padahal hal tersebut sangat berbahaya bagi keislaman seseorang karena mendatangi mereka akan mengakibatkan shalat seseorang tidak diterima selama 40 hari dan jika membenarkan perkataan mereka maka akan menjatuhkan seseorang kepada kekufuran.(Lihat penjelasannya secara rinci dalam kitab Al Qaul Al Mufid oleh Syaikh Al Utsaimin (2/5-92))
b. Ilmu yang tidak dibutuhkan;
sebagaimana halnya orang yang menyibukkan diri mereka pada ilmu kalam dan filsafat. Ilmu seperti ini tidak dibutuhkan sama sekali bahkan justru hanya menimbulkan keraguan terhadap suatu kebenaran atau senantiasa menimbulkan keheranan dan kebingungan bagi orang yang menekuninya. Lahirnya pemahaman yang senantiasa mengedepankan akal di atas dalil sebagaimana yang diusung oleh penganut paham liberal adalah salah satu buah dari menyibukkan diri dan tenggelam dalam ilmu kalam dan filsafat.
Para ulama salaf telah memperingatkan akan bahaya menyibukkan diri dengan ilmu kalam, sebagaimana dalam beberapa atsar berikut ini :
* Imam Ahmad berkata : “Tidak akan beruntung selama-lamanya ahli ilmu kalam” .
* Imam Syafi’i menegaskan : “Hukuman yang saya tetapkan bagi para ahli ilmu kalam adalah mereka diarak mengelilingi kabilah-kabilah dan dikatakan kepada mereka ini balasan bagi orang meninggalkan Al Quran dan As Sunnah serta menyibukkan diri dengan ilmu Kalam.”
* Beliau juga pernah mengatakan : “Hukuman yang saya tetapkan bagi para ahli ilmu kalam sebagaimana hukuman yang diberlakukan Umar radhiyallohu anhu kepada Shabigh”.[ Shabigh adalah seorang yang hidup pada zaman khalifah Umar bin Khatthab radhiyallohu anhu, dia selalu bertanya tentang ayat-ayat mutasyabihat dalam Al Quran. Mendengarkan hal itu Umar radhiyallohu anhu memanggilnya dan menyediakan baginya pelepah kurma lalu beliau memukul kepalanya hingga berdarah (sebagian riwayat mengatakan sebanyak 100 kali ), akhirnya Shabigh mengatakan kepada Umar radhiyallohu anhu : "Cukuplah wahai amirul Mu'minin telah hilang apa yang selama ini ada di kepala saya" . Kemudian Umar radhiyallohu anhu memerintahkan untuk mengasingkannya ke Bashrah dan melarang manusia untuk bergaul dengannya hingga dia benar-benar bertaubat dan ruju' dari pemikirannya. Lihat kisahnya secara lengkap dalam Sunan Ad Darimi ; KitabAl Muqaddimah ; Bab Man Haaba Al Futya wa Kariha At Tanaththu' wa At Tabaddu' ; no 144]
* Imam Malik mengatakan : “Seandainya Al Kalam termasuk kategori ilmu (yang disyariatkan) maka tentu para sahabat yang lebih dahulu membicarakannya (membahasnya) akan tetapi Al Kalam adalah sebuah kebatilan dan mengajak pada kebatilan”
* Imam Abu Yusuf berkomentar : “Mengilmui al kalam adalah bentuk kejahilan seseorang dan jahil terhadap ilmu Kalam adalah tanda ilmu seseorang”
* Syaikhul Islam Ibnu Taymiyah dalam bantahan beliau terhadap ahli mantiq mengatakan : “Saya senantiasa mengetahui bahwa Ilmu Mantiq Yunani tidak dibutuhkan (untuk dipelajari) oleh seorang yang cerdas dan orang yang bodoh tidak akan mengambil manfaat darinya”
Dari atsar-atsar tersebut sangat jelaslah bagi kita bahwa Ilmu Kalam bukanlah ilmu yang diperintahkan untuk dipelajari bahkan jika seseorang tidak mengetahui ilmu tersebut maka itu diantara ciri kebaikannya. Sejarah dari dahulu hingga sekarang telah membuktikan bahwa ilmu Kalam tidak mendatangkan kebahagiaan bagi pemiliknya melainkan mengantarkan kebingungan dan keputusasaan, hal ini telah diakui sendiri oleh orang-orang yang pernah bergelut dengannya sebagaimana yang disebutkan dalam biografi mantan tokoh mereka seperti Fakhrur Rozi dan Imam Ghazali].
c. Diantara makna ilmu yang tidak bermanfaat adalah ilmu yang walaupun dari segi dzat atau materinya adalah kebenaran dan kebaikan yang bersumber dari Al Quran dan As Sunnah namun pemiliknya tidak mengambil manfaat darinya; tidak diamalkan, tidak diajarkan dan tidak merubah perangai dan akhlaknya.
Imam Hasan Al Bashri pernah mengatakan: “Ilmu itu ada dua macam : ilmu yang ada dalam hati; itulah ilmu yang bermanfaat dan ilmu yang hanya ada pada lisan yang merupakan hujjah (alasan) bagi Allah untuk menyiksa seorang hamba”. [Atsar Hasan Al Bashri ini diriwayatkan oleh Imam Ad Darimi dalam As Sunan dengan sanad yang shohih, Kitab Al Muqaddimah; Bab At Tawbikh Liman Yathlubul 'Ilma Lighairillah) Maksud perkataan beliau bahwa ilmu lisan adalah ilmu yang sekadar teori yang diucapkan namun tidak diikuti dengan pengamalan dan tidak melahirkan kekhusyu'an dalam hati adapun ilmu hati adalah ilmu yang mampu mentazkiyah hatinya dan mengkhusyu'kannya sehingga melahirkan amalan-amalan yang sholih. Sebagian salaf pernah mengatakan : "Sebuah perkataan jika benar-benar berasal dari hati yang suci maka akan mengena pada hati-hati pendengar namun jika hanya keluar dari lisan seseorang maka juga hanya akan singgah di pendengaran"
Diantara fenomena yang perlu dikhawatirkan pada ummat kita sekarang ini banyaknya para penuntut ilmu syar'i menjadikan ilmu hanyalah sebagai sarana untuk menggapai materi keduniaan sehingga hal yang menjadi prioritas bagi mereka adalah bagaimana mereka mampu menguasai Al Quran dan As Sunnah untuk dijadikan bahan ceramah kemudian disertai dengan mempelajari trik-trik berkomunikasi yang efektif agar dakwahnya mampu memikat para pendengar. Maka lahirlah begitu banyak para da'i yang mampu memikat para pendengar namun mereka sangat jauh dari apa yang mereka katakan.[Saat ini semakin terbuka sarana untuk melahirkan da'i-da'i model ini dengan diadakannya kontes para da'i di sebagian program TV dimana mereka mencampurkan antara al haq dan al bathil , mencampurkan antara Quran Allah dengan Quran Syaitan (nyanyian dan musik) , Wallohul Musta'an wa Ilaihi Al Musytaka !!!) Inilah hakikat ilmu lisan yang diperingatkan oleh Imam Hasan Al Bashri rahimahullah].
Dalil-dalil berikut hendaknya menjadi peringatan bagi setiap penuntut ilmu syar’i dan para da’i :
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika menyebutkan beberapa sifat yang tercela yang dimiliki oleh orang Bani Israil (artinya) :
“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?” (QS. Al Baqarah : 44)
Firman Allah dalam Surah Ash Shaff : 2 -3 (artinya) :
“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan”.
Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam menceritakan salah satu dari pemandangan yang beliau saksikan pada saat Isra’ Mi’raj :

مَرَرْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عَلَى قَوْمٍ تُقْرَضُ شِفَاهُهُمْ بِمَقَارِيضَ مِنْ نَارٍ قُلْتُ مَا هَؤُلَاءِ قَالَ هَؤُلَاءِ خُطَبَاءُ أُمَّتِكَ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا كَانُوا يَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَيَنْسَوْنَ أَنْفُسَهُمْ وَهُمْ يَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا يَعْقِلُونَ (رواه أحمد)

“Pada saat Isra’ Mi’raj saya melewati sebuah kaum yang menggunting-gunting bibir-bibir mereka dengan gunting-gunting neraka, aku bertanya kepada Jibril : “Apa yang mereka lakukan itu ?” . Jibril menjawab : Mereka adalah para khatib dari kalangan ummatmu yang sewaktu di dunia mereka senantiasa mengajak manusia kepada kebaikan namun mereka melupakan diri mereka sendiri padahal mereka membaca Al Quran apakah mereka tidak memahami?” (HR. Ahmad)
Dalam hadits lain Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam menceritakan diantara pemandangan yang mengerikan di hari kiamat :

يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُ بَطْنِهِ فَيَدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِالرَّحَى فَيَجْتَمِعُ إِلَيْهِ أَهْلُ النَّارِ فَيَقُولُونَ يَا فُلَانُ مَا لَكَ أَلَمْ تَكُنْ تَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنْ الْمُنْكَرِ فَيَقُولُ بَلَى قَدْ كُنْتُ آمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيهِ وَأَنْهَى عَنْ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ (متفق عليه )

“Pada hari kiamat akan didatangkan seorang laki-laki lalu dilemparkan ke dalam neraka hingga terburai ususnya lalu dia mengitari neraka sebagaimana keledai yang mengitari penggilingan, maka para penduduk neraka mengelilinginya seraya bertanya : “Wahai Fulan, (mengapa keadaanmu demikian) bukankah kamu dulu senantiasa mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran”? Dia menjawab : “Ya, dulu (di dunia) aku mengajak kepada kebaikan namun aku tidak melaksanakannya dan aku cegah manusia dari kemungkaran lalu aku yang mengerjakannya” (HR. Bukhari dan Muslim)
2) Hati yang tidak khusyu’
Perkara kedua yang Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam meminta perlindungan darinya adalah dari hati yang tidak khusyu’. Hati yang tidak khusyu’ adalah hati yang tidak mampu mentadabburi ayat-ayat Allah dan tidak merasakan ketenangan pada saat berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla.
Allah Azza wa Jalla berfirman dalam beberapa ayat-Nya tentang ciri-ciri orang yang beriman (artinya):
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.(QS. Ar Ra’ad : 28)
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan hanya kepada Rabblah mereka bertawakkal. (QS. Al Anfaal : 2)
Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Rabbnya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya…(QS. Az Zumar : 22)
Sebaliknya orang-orang kafir terutama orang Yahudi adalah orang-orang yang memiliki hati yang keras, sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala firmankan dalam beberapa ayat-Nya :
Kemudian setelah itu hatimu (kaum Bani Israil) menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. (QS. Al Baqarah : 74)
Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Al Hadid : 16)
Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (QS. Az Zumar : 22)
Diantara hal yang sangat prinsip bagi seorang mu’min adalah wajib baginya untuk tidak bertasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir dalam segala hal baik dalam penampilan zhahir maupun yang batin. Janganlah kita menjadi seorang yang sangat berbeda dengan orang kafir dari sisi penampilan zhohir namun hatinya diterlantarkan dan tidak diberikan kebutuhannya sehingga menjadi hati yang sakit atau bahkan hati yang mati. Wal’iyadzu billahi.
3) Doa yang tidak didengarkan
Ini salah satu musibah yang terbesar bagi seorang hamba ketika doa dan permintaannya tidak lagi didengar oleh Allah, karena kita adalah hamba yang sangat fakir di hadapan-Nya. Maksud dari doa yang tidak didengarkan adalah doa yang tidak dikabulkan bukan berarti Allah tidak mampu mendengarkan permintaannya, karena Allah Maha Mendengar segala sesuatu. Dalam Al Quran Allah Azza wa Jalla telah menjamin untuk senantiasa menerima dan mengabulkan permintaa hamba-Nya, akan tetapi kadang ada doa yang tidak diterima disisi-Nya disebabkan beberapa faktor, antara lain:
a. Doa untuk perbuatan dosa dan memotong tali silaturahim sebagaimana yang disabdakan Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam :

لَا يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ (رواه مسلم )

“Seorang hamba senantiasa akan dikabulkan doanya selama dia tidak berdoa untuk suatu dosa dan memutuskan silaturahmi” (HR. Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallohu anhu)(11)
b. Tergesa-gesa untuk melihat hasil dari doanya
Rasulullah shallalohu alaihi wa sallam bersabda :

يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ يَقُولُ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي (متفق عليه)

“Seorang diantara kalian akan diterima doanya selama dia tidak tergesa-gesa (melihat hasilnya) yaitu dia mengatakan aku telah berdoa namun belum dikabulkan permintaanku” (HR. Bukhari dan Muslim)(12)
c. Harta yang dimilikinya semuanya berasal dari barang yang haram

… الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ (رواه مسلم)

(Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam menceritakan) seseorang yang mengadakan perjalanan dalam waktu yang lama pakaian dan rambutnya telah lusuh berdebu dia menadahkan tangannya ke atas langit seraya berkata : Ya Rabb, ya Rabb, namun makanannya berasal dari harta yang haram, minumannya juga dari yang haram, pakaiannya juga berasal dari yang haram serta dia telah dikenyangkan dengan yang haram maka bagaimana mungkin doanya akan diterima” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu)(13)
d. Meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar

عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنْ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ (رواه الترمذي )

Dari Hudzaifah bin Yaman radhiyallohu anhu dari Nabi shallallohu alaihi wa sallam bersabda : “Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, hendaknya kalian bersungguh-sungguh untuk beramar ma’ruf nahi mungkar atau sudah dekat masanya Allah mengutus atas kalian siksa dari-Nya kemudian kalian berdoa kepada-Nya lalu Allah tidak mengabulkan doa-doa kalian”
(HR. Tirmidzi)(14)
4) Jiwa yang tidak kenyang
Yang dimaksud di sini adalah jiwa yang tidak pernah puas dan bersyukur atas nikmat Allah yang sifatnya duniawi, adapun tidak pernah puas terhadap kenikmatan ukhrawi dan ingin agar selalu ditambahkan kepadanya maka hal tersebut disyariatkan sebagaimana firman Allah :
“…dan katakanlah: “Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.”
(QS. Thaha : 114)
Dunia adalah kesenangan yang menipu dan kebanyakan anak manusia tidak pernah merasa puas dan kenyang terhadap nikmat duniawi serta rakus akan harta sehingga mereka senantiasa berlomba-lomba untuk mendapatkan dunia sebanyak-banyaknya walaupun dengan cara-cara yang tidak dibenarkan dalam syariat. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam menyebutkan gambaran keadaan ini :

عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : وَلَوْ أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ مَالٍ لَابْتَغَى إِلَيْهِ ثَانِيًا وَلَوْ كَانَ لَهُ ثَانِيًا لَابْتَغَى إِلَيْهِ ثَالِثًا وَلَا يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ (رواه الترمذي و أحمد

Dari Ubay bin Ka’ab radhiyallohu anhu bahwa Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam bersabda : “Seandainya anak cucu Adam memiliki harta (emas) sebanyak satu lembah tentu dia akan mencari lagi harta sebanyak itu dan seandainya dia telah memiliki harta sebanyak dua lembah tentu dia akan mencari yang ketiga padahal tidak ada yang memenuhi perut seorang manusia (pada saat dia meninggal dunia) kecuali tanah dan Allah menerima taubat hamba-Nya yang bertaubat” (HR. Tirmidzi dan Ahmad) [ Hadits ini diriwayatkan oleh Tirmidzi dalam As Sunan; Kitab Manaqib 'an Rasulillah; Bab Manaqib Muadz, Zaid bin Tsabit wa Ubay bin Ka'ab (3793) dan Imam Ahmad dalam Al Musnad ; Kitab Musnad Al Anshor; Bab Hadits Zirr bin Hubays 'an Ubay bin Ka'ab . Hadits semakna dengan ini juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Anas bin Malik radhiyallohu anhu)
Ath Thibi ketika menerangkan hadits ini mengatakan bahwa maknanya: "Anak cucu Adam memiliki tabiat mencintai harta dan senantiasa berusaha untuk mendapatkannya serta tidak pernah kenyang darinya kecuali orang yang telah Allah jaga dan selamatkan jiwanya dari sifat ini dan mereka itu sangat sedikit" [Lihat : Tuhfatul Ahwadzi (6/519)]
Hadits Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam di atas sangat relevan dengan keadaan kita sekarang dimana ketika negeri kita menghadapi berbagai macam krisis moneter yang berkepanjangan, maka diserukan kepada seluruh rakyat untuk hidup hemat namun ironinya sebagian dari wakil-wakil rakyat yang berkantong tebal justru menghabiskan dana yang besar untuk sekadar melancong ke negri-negeri kafir dengan tujuan berbelanja bahkan yang lebih menggelikan sekaligus menyedihkan mereka tanpa malu-malu menuntut untuk dinaikkan gaji mereka yang sudah sangat besarnya bahkan begitu banyak diantara mereka yang terjatuh dalam praktek suap dan korupsi, Wallohul Musta’an.
PENUTUP DAN KESIMPULAN
Ada beberapa faidah dan pelajaran penting yang dapat kita petik dari hadits yang mulia ini, diantaranya :
1. Disyariatkan berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari empat perkara di atas
2. Nabi Muhammad shallallohu alaihi wa sallam adalah seorang manusia yang senantiasa menampakkan penghambaannya dan pengagungannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala
3. Pelajaran yang berharga bagi setiap pribadi dari ummat ini untuk senantiasa diliputi oleh rasa takut kepada Allah Azza wa Jalla dan menyadari eksistensinya sebagai seorang hamba yang fakir di hadapan Rabb-Nya
4. Anjuran dan pelajaran bagi ummat Islam untuk banyak berdoa dengan doa di atas karena pada hakikatnya Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam menyebut doa ini untuk kepentingan kita karena beliau seorang yang ma’shum (terjaga) dari keempat perkara di atas
5. Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa larangan bersajakYang dimaksudkan bersajak pada doa adalah berdoa dengan kalimat-kalimat yang huruf-huruf akhirnya selalu sama, seperti contoh di atas dimana Nabi Muhammad shallallohu alaihi wa sallam berlindung kepada empat perkara yang semuanya berakhir dengan huruf ‘ain (ع). Larangan bersajak pada saat berdoa disebutkan dalam sebuah atsar yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari berkenaan dengan beberapa wasiat Ibnu Abbas kepada Ikrimah diantaranya : “Jauhilah bersajak pada saat berdoa karena saya mendapati Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam dan para sahabat senantiasa menjauhinya”. Atsar ini disebutkan oleh Imam Bukhari dalam Ash Shohih; Kitab Ad Da’awaat; bab Maa Yukrahu Min As Saj’i Fid Du’aa (Dimakruhkannya Bersajak Pada saat Doa] namun dikhususkan bagi mereka yang memaksa-maksakan diri bersajak pada saat doa, adapun seseorang yang memiliki lisan yang fasih dan cita rasa bahasa Arab yang tinggi sehingga berdoa dengan bahasa yang sangat teratur dan bersajak tanpa dipaksa-paksakan maka hal itu dibolehkan, wallohu a’lam.
بسم الله الرحمن الرحيم

Oleh: Abu Unaisah, Aswanto bin M. Takwi, Lc

I. Definisi Ilmu Mushtalah

Ulama mendefinisikan ilmu ini dengan perkataannya:
عِلْمُ بِقَوَاعِدِ وَقَوَانِيْنَ يُعْرَفُ بِهَا أَحْوَالُ السنَدِ وَالمَتْن مِنْ حَيْثُ القَبُوْلُ أَوْ الرد

Adalah ilmu tentang kaidah-kaidah dan aturan-aturan yang dengannya diketahui keadaan sanad dan matan dari segi penerimaan dan penolakannya.

Sanad : silsilah (rantai) rijal (perawi-perawi) yang bersambung sampai ke matan.

Matan : perkataan yang datang setelah akhir sanad.

II. Urgensi Ilmu Musthalah

Sangat banyak manfaat ilmu ini yang terpenting diantaranya adalah :
1. Membedakan antara hadits shohih dan dhoif.

Pada abad pertama setelah wafatnya Rasulullah shallallohu alaihi wasallam, sanad yang beredar adalah sanad yang shohih, sahabat meriwayatkan langsung dari Rasulullah shallallohu alaihi wasallam dan sahabat semuanya adil dan terpercaya. Namun setelah wafatnya Utsman bin Affan radhiyallohu anhu mulailah nampak bid’ah dan golongan sesat, serta mereka menambah, mengurangi dan memalsukan hadits nabi untuk memperkuat bid’ah mereka. Sebagaimana perkataan Muhammaf bin Sirrin : “Mereka (para sahabat) dulunya tidak pernah menanyakan tentang sanad, sampai terjadinya fitnah.

Maka ilmu ini dibuat untuk membedakan yang shohih dan yang dho’if.

2. Ilmu ini termasuk kunci untuk masuk dalam ilmu-ilmu syar’i yang lalu, seperti : Aqidah, Tafsir, Fiqh dan lain-lain.

Buku-buku maraji (rujukan) dari ilmu ini diriwayatkan dengan sanad.

3. Terhindar dari berdusta atas nama Rasulullah shallallohu alaihi wasallam

Karena meriwayatkan/menyebutkan hadits palsu dan lemah, sementara dia mengetahuinya atau tidak hati-hati dan teliti, itu artinya dia telah berdusta atas Rasulullah shallallohu alaihi wasallam.

Imam Muslim meriwayatkan dalam muqoddimah shohihnya, Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda : “Siapa yang meriwayatkan hadits sementara ia tahu bahwa (hadits) itu dusta, maka dia termasuk salah seorang dari pendusta.”

Dan Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda dalam hadits mutawatir : “Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya di neraka.”

4. Dapat membangkitkan rasa tenang dalam hati tentang janji Allah Azza wa Jalla untuk menjaga syari’at ini, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : “Sesungguhnya Kami yang menurunkan (Al-Qur’an) dan kami pulalah yang menjaganya.” (QS. Al Hijr :9)

III. Sejarah Perkembangan Ilmu Musthalah.

Secara umum kita dapat membagi sejarah perkembangan ilmu musthalah menjadi empat marhalah (tahapan zaman) :

1. Marhalah pertama dimana sahabat Rasulullah shallallohu alaihi wasallam menghafal hadits-hadits beliau, safar untuk mengumpulkan dan mencocokkannya dan menulisnya pada shohifah (lembaran-lembaran), seperti : Shohifah Ali bin Abi Tholib, Abdullah bin ‘Amr, dan lain-lain.
2. Marhalah penulisan sunnah secara resmi ketika Umar bin Abdul Azis rahimahulloh memerintahkan untuk menyebarkan ilmu dan menulisnya, maka dikumpullah hadits-hadits Rasulullah shallallohu alaihi wasallam dan perkataan sahabat yang mana disela-selanya terdapat faidah-faidah dan isyarat-isyarat yang pada akhirnya Muhadditsin (ahli hadits) menjadikannya sebagai dasar ilmu musthalah, diantaranya Kitab Sunan Abi Daud, Musnad Ahmad, dan lain-lain.
3. Marhalah pemisahan faidah-faidah tersebut yang merupakan dasar ilmu musthalah dari kitab-kitab hadits, maka dikumpulkan ilmu-ilmu yang serupa pada kitab tersendiri, seperti Kitab Al ’Ilal oleh Ali bin Madini, Kitab Marasiil oleh Abu Daud, dan lain-lain.
4. Marhalah penggabungan setelah pemisahan. Ilmu-ilmu yang telah dipisahkan tadi seperti ‘Ilal dan Marasiil dan lain-lain digabung dalam satu kitab sebagai ilmu tersendiri yaitu Ilmu Musthalah Hadits. Maka orang yang pertama melakukan hal itu adalah Abu Muhammad Hasan bin Abdur Rahman Al Romahurmuzi (wafat : 360H) dan menamakan kitabnya Al Muhaddits Al Fashil baina Ar Rowi wal Wa’iy Tapi kitab ini belum sempurna dan belum mencakup semua jenis istilah hadits. Kemudian datang setelahnya Abu Abdillah Muhammad bin Abdul Hakim (wafat :405 H) dan mengarang kitab : Ma’rifah Ulum Al Hadits di dalamnya beliau menyebutkan 54 jenis istilah hadits dan kitab ini lebih unggul dari kitab yang pertama dari segi pengaturannya, kemudian setelahnya datang Abu Nu’aim Ahmad Al Ashbahani (wafat : 430 H) dan mengarang Mustahkraj atas kitabnya Al Hakim.

Kemudian datang setelahnya Al Muhaddits Abu Bakar Ahmad bin Ali yang terkenal dengan gelar Al Khatib Al Baghdadi (wafat : 463 H) dan mengarang kitab Ushulul Hadits dan diberi nama : Al Kifayah. Berkata Ibnu Nuqthoh : semua muhadditsin (ulama hadits) setelah Al Khatib merujuk pada buku-buku beliau. Kemudian datang setelahnya Al Qhadhi ‘Iyadh (wafat : 544 H) dan mengarang kitab Al Ilmaa’.

Setelah mereka datang Abu Hafs Umar bin Abdul Majid Al Mayanji (wafat : 580 H) dan mengarang kitab “Ma la Yasa’ul Muhaddits Jahluhu”. Setelah itu para ulama hadits terus mengarang kitab-kitab musthalah hadits dan semakin menyempurnakannya sampai datang Abu ‘Amr Ibn Shalah Utsman bin Abdur Rahman Ash Shaharzuri (wafat : 643).

Ketika mengajar di Madrasah Asyrafiyah di Damaskus dan mengarang kitab “Ulumul Hadits” yang kemudian masyhur dengan nama “Muqoddimah Ibnu Shalah”, kitab ini lebih sempurna dari kitab-kitab sebelumnya yang mana mencakup 65 jenis istilah hadits.

Diantara keistimewaan kitab ini, telah disusun dengan teliti dan bab-bab yang teratur serta mentarjih beberapa masalah istilah hadits. Dan orang-orang yang datang setelah beliau menjadikan bukunya sebagai rujukan dalam Ilmu Musthalah Hadits.

IV. Pembagian “Khabar”dari beberapa tinjauan

Al Khabar : apa saja yang datang dari Nabi r dan selainnya berupa perkataan atau perbuatan atau persetujuan.Ada yang mengatakan bahwa Khabar itu sinonim dari hadits.

Pembagian Khabar ditinjau dari segi sampainya kepada kita terbagi dua : Mutawatir dan Ahad.

Khabar Mutawatir : khabar yang diriwayatkan oleh jumlah yang banyak yang mustahil (menurut kebiasaan) mereka semua sepakat berdusta.

Syarat hadits (khabar) mutawatir :

1. diriwayatkan oleh jumlah yang banyak.

2. jumlah ini terdapat di seluruh thabaqot sanad.

3. mustahil mereka sepakat untuk berdusta.

4. sandaran khabar mereka adalah indra (perasa).

Khabar Ahad : khabar (hadits) yang tidak terpenuhi padanya syarat-syarat hadits mutawatir.

Khabar Ahad dipandang dari segi diterima dan ditolaknya terbagi menjadi dua : Maqbul (diterima) dan Mardud (ditolak)

- Khabar Maqbul : khabar (hadits) yang dijadikan hujjah.

Dan khabar maqbul terbagi menjadi 4 :

a. Shahih lizatihi

b. Shahih lighoirihi

c. Hasan lizatihi

d. Hasan lighairihi.

Definisi hadits shohih : hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, sempurna hafalannya dari perawi yang sama (sifatnya), bersambung sanadnya dan tidak berillat serta syadz.

Hadits hasan : hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, ringan (kurang sempurna) hafalannya, bersambung sanadnya dan tidak berillat dan syadz.

Adil : seorang muslim berakal yang sudah baligh yang selamat dari kefasiqan.

Berillat : hadits yang pada zhohirnya selamat darinya, tetapi pada hakikatnya (setelah diteliti) adal illat yang dapat melemahkan hadits.

Syadz : hadits yang salah seorang rawinya yang maqbul menyelisihi rawi lain yang lebih kuat darinya.

- Khabar Mardud (dho’if) : hadits (khabar) yang tidak terkumpul padanya syarat hadits maqbul.

Jenisnya sangat banyak sebagian ulama menyebutkan sampai pada 49 jenis, dan dapat kita kelompokkan menjadi 4 kelompok besar :

1. Sanadnya yang terputus (tidak bersambung), seperti : Mu’allaq, Mursal, Munqothi’, Mu’dhol. Mudallas.

2. Perawinya yang cacat. Ada 10 sebab, 5 diantaranya karena cacat “adalahnya” dan sisanya karena cacat hafalannya.

a. Dusta atas nabi dan haditsnya dinamakan Maudhu’

b. Tertuduh berdusta akibat dusta atas orang lain selain nabi dan haditsnya dinamakan Matruk

c. Kefasikan yang tidak sampai kepada kekufuran dan haditsnya dinamakan Matruk

d. Jahala (tidak dikenal) perawinya dan haditsnya Majhul.

e. Perawinya mubtadi’ (pelaku bid’ah).

1. Banyak lalainya (Katsratul Gaflah) dan haditsnya Matruk.

g. Banyak salahnya (Katsratul Galath) dan haditsnya Matruk.

h. Banyak kelirunya (Katsratul Wahm) dan hadits yang terdapat kekeliruan di dalamnya dinamakan Mu’all atau Mu’allal.

1. Menyelisihi perawi lain yang lebih kuat (tsiqah) dan haditsnya dinamakan Syadz.
2. Jelek hafalannya, yaitu kesalahan dan kebenarannya dalam riwayat seimbang atau lebih banyak salahnya.




عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِي حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رضي الله عنه قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : [ إِنَّمَا الأَعْمالُ بِالنِّيَاتِ وَ إِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلى اللهِ وَ رَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلى اللهِ وَ رَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِامْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ ] رَوَاهُ إِمَامَا الْمُحَدِّثِيْنَ أَبُو عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيْلَ بْنِ إِبْرَاهِيْمَ بْنِ الْمُغِيْرَةِ بْنِ بَرْدِزْبَةَ الْبُخَارِيُّ وَ أبُو الْحُسَيْنِ مُسْلِمُ بْنُ الْحَجَّاجِ بْنِ مُسْلِمٍ الْقُشَيْرِيُّ النَّيْسَابُوْرِيُّ فيِ صَحِيْحَيْهِمَا الَّذَيْنِ هُمَا أَصَحُّ الْكُتُبِ الْمُصَنَّفَةِ
1. Dari Amirul Mu’minin Abu Hafsh radhiyallahu ‘anhu berkata : Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu hanyalah tergantung pada niat, dan sesungguhnya bagi setiap orang hanya memperoleh (sesuai) apa yang ia niatkan. Maka siapa yang hijrahnya menuju (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu ke arah (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya itu karena dunia yang ingin diraihnya atau karena seorang wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya itu ke arah apa yang ia tuju”. (Diriwayatkan oleh dua Imam ahli hadits : Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah Al Bukhari dan Abu Husain Muslim bin Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naisaburi dalam dua kitab shahih mereka yang merupakan kitab yang paling shohih diantara kitab-kitab hadits).

KEUTAMAAN HADITS

Hadits ini merupakan salah satu contoh Jawami' Al-Kalim (kalimat-kalimat yang ringkas bermakna luas) dan para ulama kaum muslimin telah sepakat bahwa hadits ini sangat agung, mempunyai banyak faidah dan derajatnya shahih.

Hadits ini merupakan setengah dari Ad-Dien karena merupakan mizan (timbangan) amalan batin, sebagaimana diketahui Ad-dien terbagi atas 2 yakni :

· amalan batin (mizannya Hadits-1 dari Arbain Nawawi)

· amalan zhohir (mizannya Hadits-5 dari Arbain Nawawi)

Abu Abdillah[1] menyatakan bahwa tidak ada satu hadits pun yang lebih lengkap, luas cakupannya dan lebih banyak faidahnya melebihi hadits ini.

Imam Ahmad رحمه الله تعالى berkata: “ Pokok-pokok Islam ada pada 3 hadits, yaitu hadits Umar (H-1), hadits ‘Aisyah (H-5), dan hadits Nu’man bin Basyir (H-6)

Imam Syafi’i رحمه الله تعالى mengatakan: ” Hadits ini merupakan 1/3 ilmu dan masuk ke dalam 70 bab fiqh “, sedang Imam Bukhari telah memasukkan hadits ini dalam 7 bab dalam kitab Shohih beliau

Imam Asy-Syaukani رحمه الله تعالى menuturkan : “Hadits ini merupakan salah satu kaidah dalam Islam hingga dikatakan dia mengandung sepertiga ilmu” Beliau berkata pula: “Hadits ini mempunyai faidah-faidah yang telah dipaparkan dalam kitab-kitab tebal… dan seyogyanya disusun kitab yang khusus untuk menjelaskannya”.

Abdurrahman bin Mahdi رحمه الله تعالى berkata : “ Seandainya saya menulis sebuah kitab yang terdiri dari beberapa bab-bab, maka sungguh saya akan menjadikan hadits Umar bin Khoththob di dalam tiap bab “ Dan beliau juga berkata : “Barangsiapa yang hendak menyusun suatu kitab hendaknya memulai dengan hadits ini”. Dan nasehat ini telah diamalkan oleh para ulama di antaranya:

· Imam Bukhari dalam Shohihnya

· Al-Hafizh Taqiyuddin Abdul Ghoni Al Maqdisi dalam ‘Umdahtul Ahkam

· Al Hafizh Zainuddin Abdurrahman Al-’Iraqi dalam Taqribul Asanid wa Tartib Al Masanid

· Imam An-Nawawi dalam Riyadhush Shalihin ,Arbain An-Nawawiyah, dan Al-Adzkar

· Imam Suyuthi dalam Al Jami’ Ash-Shogir

Ini menunjukkan pengagungan ulama terhadap hadits ini yakni mereka memandang hendaknya hadits ini didahulukan dalam setiap kitab yang disusun, sebagai peringatan bagi para penuntut ilmu untuk memperbaiki niatnya dan sebagai isyarat bahwa setiap amalan yang tidak ditujukan untuk Allah maka amalan tersebut batil, tidak ada buahnya di dunia dan di akhirat.

BIOGRAFI SAHABAT PEROWI HADITS

Nama, Kunniyah dan Laqab beliau :

Nama beliau adalah Umar bin Al-Khaththab bin Nufail bin Abdul ‘Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurth bin Rozah bin ‘Adi bin Ka’ab bin Luai bin Ghalib Al-Qurasyi Al ‘Adawi

Kunniyah : Abu Hafsh (”Hafsh” artinya anak singa)

Laqab (gelaran) : Al-Faruq ( pembeda ) karena setelah keislaman beliau semakin nampak al-Haq dan Al-Bathil.

Kelahiran beliau :

Beliau lahir 3 tahun sesudah Tahun Gajah (40 tahun sebelum hijrah)

Diantara keutamaan beliau:

· Beliau adalah khalifah kedua bagi kaum muslimin sesudah wafatnya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah I menguatkan Ad-Din dengan keislaman beliau

· Pada zaman jahiliyah beliau termasuk pahlawan dan pemuka Quraisy. Sebelum masuk Islam, Umar sangat keras kepada Islam dan kaum Muslimin. Beliau masuk Islam 5 tahun sebelum hijrah dan keislaman beliau merupakan kemuliaan dan kekuatan serta kelapangan bagi kaum muslimin sebagaimana penuturan Ibnu Mas’ud: “Kami dahulu tidak pernah menyembah Allah secara terang-terangan hingga masuknya Umar ke dalam Islam“.

· Seorang pemberani sehingga sangat ditakuti oleh jin dan manusia. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda pada Umar radhiyallahu ‘anhu:

[ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا لَقِيَكَ الشَّيْطَانُ قَطُّ سَالِكًا فَجًّا إِلَّا سَلَكَ فَجًّا غَيْرَ فَجِّكَ ]

“ Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya,tidaklah syetan berpapasan denganmu pada suatu jalan, melainkan syaithan akan mencari jalan yang lain (HR.Bukhari dan Muslim)

· Beliau senantiasa berkata benar dan merupakan sahabat yang selalu mendapatkan ilham (bimbingan Ilahi). Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda :

 إِنَّ اللَّهَ جَعَلَ الْحَقَّ عَلَى لِسَانِ عُمَرَ وَقَلْبِهِ

"Sesungguhnya Allah ta’ala menjadikan al haq pada lisan dan hati Umar radhiyallahu ‘anhu" (HR. Tirmidzi dan Ahmad)

dalam hadits lain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

( لَوْ كَانَ بَعْدِي نَبِيٌّ لَكَانَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ )

:"Seandainya ada Nabi sesudahku maka dia adalah Umar bin Khaththab” (HR.Tirmidzi dan Ahmad di musnad beliau dan dalam Kitab Fadhail As-Shohabah 1:246)

Beliau termasuk salah seorang dari 10 orang sahabat yang dijamin masuk syurga, sebagaimana sabda Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh sahabat Said bin Zaid radhiyallohu anhu :

] عَشْرَةٌ فِي الْجَنَّةِ النَّبِيُّ فِي الْجَنَّةِ وَأَبُو بَكْرٍ فِي الْجَنَّةِ وَعُمَرُ فِي الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ فِي الْجَنَّةِ وَعَلِيٌّ فِي الْجَنَّةِ وَطَلْحَةُ فِي الْجَنَّةِ وَالزُّبَيْرُ بْنُ الْعَوَّامِ فِي الْجَنَّةِ وَسَعْدُ بْنُ مَالِكٍ فِي الْجَنَّةِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ فِي الْجَنَّةِ وَلَوْ شِئْتُ لَسَمَّيْتُ الْعَاشِرَ قَالَ فَقَالُوا مَنْ هُوَ فَسَكَتَ قَالَ فَقَالُوا مَنْ هُوَ فَقَالَ هُوَ سَعِيدُ بْنُ زَيْدٍ [

"Sepuluh sahabat (yang dijamin) masuk surga : Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Thalhah, Zubair bin Awwam, Sa'ad bin Malik (Sa’ad bin Abi Waqqash), Abdurrahman bin Auf." (Said bin Zaid t)-sahabat perowi hadits ini- berkata: "Jika aku ingin maka aku menyebut yang kesepuluh" Mereka bertanya:"Siapa orang itu?" Beliau(Said) diam, namun mereka bertanya lagi: "Siapa dia?" Beliau berkata: "Orang itu adalah Said bin Zaid " (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

· Beliau adalah orang yang pertama kali menetapkan penanggalan Hijriyah sebagai penanggalan kaum muslimin kemudian menjadi ijma’ dikalangan sahabat.

· Beliau telah berhijrah dan berjihad bersama Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan dibai’at menjadi khalifah saat wafatnya Abu Bakart tahun 13 Hijriyah

· Beliau sangat terkenal dengan keadilannya.

· Umat Islam banyak mengalami kejayaan sejak kekhalifaan beliau. Pada masa pemerintahannya kaum muslimin berhasil membuka banyak wilayah untuk pemerintahan kaum muslimin dan menaklukkan banyak negeri diantaranya Syam, Iraq, Al Quds,Mesir dan lain-lain.

Wafat Beliau :

Beliau wafat 23 H dalam usia 65 tahun di tangan Abu Lu’lu’ah Al-Majusi yang menikamnya secara licik ketika sedang memimpin sholat subuh dan beliau meninggal dunia tiga hari setelah peristiwa tersebut. Beliau dimakamkan di sisi nabi Muhammad r dan Abu Bakar Ash Ashiddiq Radhiyallahu ‘anhuma.

KEDUDUKAN HADITS

Perlu diketahui meskipun hadits ini ditakhrij oleh banyak Imam dan semuanya bersepakat akan keutamaan dan kedudukan hadits ini yang sangat tinggi namun hadits ini tidak termasuk dalam hadits mutawatir. Hadits ini jika dilihat di awal sanadnya adalah hadits gharib, tapi jika dilihat akhir sanadnya adalah hadits masyhur.

· Hadits ini termasuk hadits Ahad karena hanya diriwayatkan dari Umar bin Khattab t, ada riwayat lain tetapi dhoif yaitu dari Abu Hurairah t, Ali t, Anas t dan Abu Said Al Khudrit

Sanad hadits :

untuk ibadah-ibadah yang satu paket (sholat,shaum dll) maka harus ikhlas dari awal sampai akhir

§ untuk ibadah-ibadah yang terputus-putus (membaca Al-Qur’an, menuntut ilmu dll) maka hanya dibutuhkan pembaharuan niat

4. Jika ada seseorang yang ikhlas/ murni niatnya sejak awal hingga akhir lalu mendapatkan penghormatan/penghargaan dari manusia tanpa ia harapkan ;maka penghargaan ini tidaklah mengurangi pahalanya, bahkan hal itu adalah kabar gembira dari Allah U yang dipercepat sebelum mendapatkan pahala yang lebih mulia di hari kiamat kelak, sebagaimana hadits Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu :

عن أبي ذرt عن النبي r: أنَّهُ سُئِلَ عَنِ الرَّجُلِ يَعمَلُ العَمَلَ ِللهِ مِنَ الخَيرِ يَحمَدُهُ النَاسُ عَلَيهِ ؟ فقال : تِلكَ عَاجِلٌ بُشرَى المُؤمِنَ (رواه مسلم)

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu dari Nabi r : sesungguhnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallamditanya tentang seorang laki-laki yang beramal kebaikan karena Allah kemudian manusia memujinya , kamudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallammenjawab : Itu adalah khabar gembira yang dipercepat bagi orang mu’min (H.R. Muslim)

Beberapa contoh permasalahan tentang niat :

1. Si A bersedekah kepada si B yang menurutnya berhak mendapatkan sedekah, padahal ternyata Si B adalah orang yang tidak berhak untuk memperoleh sedekah, maka Si A tetap mendapatkan pahala apa yang ia niatkan.

2. Seseorang yang berniat berhubungan dengan istrinya tetapi ternyata wanita tersebut bukan istrinya maka ia tidak berdosa

3. Orang yang berniat untuk melakukan maksiat, tetapi tidak jadi dilakukan, maka hal ini terbagi

dalam beberapa kategori :

§ Jika ia telah berazam lalu meninggalkan perbuatan maksiat tersebut karena Allah ta’ala ; maka tidak berdosa bahkan ia diganjar dengan pahala

§ Jika telah berazam lalu ditinggalkan karena takut manusia ; maka ia berdosa.

Kedua kategori dengan syarat ia sudah berazam (tekad kuat) bukan sekedar bisikan-bisikan jiwa

KESIMPULAN

Seorang muslim hendaknya senantiasa memperhatikan hati dan niatnya dalam beramal, karena amalan apapun yang dia lakukan walaupun itu mulia kedudukannya namun jika dia tidak ikhlas maka dia tidak akan mendaptkan apa-apa di akhirat kelak kecuali adzab Allah I. Cukuplah hadits ini merupakan pelajaran dan peringatan yang besar bagi kita semua:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ َ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ r يَقُولُ:] إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ جَرِيءٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ [

Dari Abu Hurairah t berkata: Saya telah mendengar Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:"Sesungguhnya manusia yang pertama kali diputuskan di hari kiamat adalah seorang yang mati syahid (di medan jihad) ketika dia didatangkan dihadapan Allah lalu diperlihatkan kepadanya nikmat Allah(waktu di dunia) maka dia mengenalinya ,lalu Allah bertanya kepadanya: "Apa yang telah kamu lakukan (di dunia) dengan nikmat-nikmat tersebut?Orang itu menjawab:"Saya telah berperang di jalan-Mu hingga mati syahid" Allah U berfirman:"Kamu dusta, akan tetapi kamu berperang agar dikatakan sebagai pemberani dan hal itu sudah dikatakan (di dunia) maka diperintahkan (pada malaikat) untuk menyeret orang tersebut dengan wajahnya hingga dicampakkan ke api neraka. Dan orang (kedua) yang menuntut ilmu, mengajarkannya dan membaca Al Quran ketika dia didatangkan dihadapan Allah lalu diperlihatkan kepadanya nikmat Allah(waktu di dunia) maka dia mengenalinya ,lalu Allah bertanya kepadanya: "Apa yang telah kamu lakukan (di dunia) dengan nikmat- nikmat tersebut?Orang itu menjawab:"Saya telah menuntut ilmu,mengajarkannya dan membaca Al Quran karena-Mu" Allah U berfirman:"Kamu dusta, akan tetapi kamu menuntut ilmu agar digelari sebagai seorang Alim dan kamu membaca Al Quran agar digelari sebagai seorang qari' dan hal itu sudah dikatakan (di dunia) maka diperintahkan (pada malaikat) untuk menyeret orang tersebut dengan wajahnya hingga dicampakkan ke api neraka. Dan orang (ketiga) seorang yang telah Allah lapangkan baginya dan menganugrahkan kepadanya seluruh perbendaharaan harta ketika dia didatangkan dihadapan Allah lalu diperlihatkan kepadanya nikmat Allah(waktu di dunia) maka dia mengenalinya ,lalu Allah bertanya kepadanya: "Apa yang telah kamu lakukan (di dunia) dengan nikmat-nikmat tersebut?Orang itu menjawab:"Tidaklah saya meninggalkan sebuah jalan untuk berinfak yang Kamu cintai kecuali saya berinfak karena-Mu " Allah U berfirman:"Kamu dusta, akan tetapi kamu melakukan itu untuk dikatakan sebagai dermawan dan hal itu sudah dikatakan (di dunia) maka diperintahkan (pada malaikat) untuk menyeret orang tersebut dengan wajahnya hingga dicampakkan ke api neraka.(HR.Muslim)

Shahabat yang mulia Muawiyah t ketika mendengarkan hadits di atas beliau menangis hingga pingsan dan ketika siuman beliau mengatakan : "Shadaqallohu wa Rasuluhu (Telah benar firman Allah dan sabda Shallallahu ‘alaihi wa sallam); Allah I berfirman :

﴿ مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ(15)أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ﴾

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan (QS. Huud : 15-16)[33]

Camkan dan ingat pula dua hadits berikut :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ t قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ r مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ U لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنْ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي رِيحَهَا (رواه أبو داود و ابن ماجه و أحمد)

Dari Abu Hurairah t berkata: Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang menuntut ilmu yang seharusnya untuk mencari wajah Allah namun dia tidak menuntutnya melainkan mendapatkan sesuatu dari benda duniawi maka dia tidak mencium bau surga di hari Kiamat” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad)

عن كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ t قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ r يَقُولُ : مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُجَارِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ النَّارَ (رواه الترمذي)

Dari Ka’ab bin Malik t berkata: Saya mendengar Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk menandingi para ulama dan untuk mendebat orang-orang bodoh serta memalingkan pandangan manusia kepadanya, Allah akan memasukkannya ke neraka” (HR.Tirmidzi)

Dan hendaknya senantiasa kita menjadikan akhirat sebagai sasaran dan tujuan dalam setiap amalan kita, renungkanlah hadits berikut ini:

]مَنْ كَانَتْ الدُّنْيَا هَمَّهُ فَرَّقَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ وَمَنْ كَانَتْ الْآخِرَةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللَّهُ لَهُ أَمْرَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ [

Artinya: “Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya maka Allah akan menjadikan urusannya kacau dan kefakiran senantiasa berada di kedua matanya serta dunia tidak akan datang kepadanya kecuali apa yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai niat/tujuannya maka Allah akan mengumpulkan baginya urusannya dan Allah menjadikan kekayaan pada hatinya serta dunia akan datang kepadanya dengan tunduk dan menyerahkan diri” (HR. IBNU MAJAH)

- و الله الموفق -

TAKHRIJ HADITS

/ رَوَاهُ إِمَامَا الْمُحَدِّثِيْنَ أَبُو عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيْلَ بْنِ إِبْرَاهِيْمَ بْنِ الْمُغِيْرَةِ بْنِ بَرْدِزْبَةَ الْبُخَارِيُّ وَ أبُو الْحُسَيْنِ مُسْلِمُ بْنُ الْحَجَّاجِ بْنِ مُسْلِمٍ الْقُشَيْرِيُّ النَّيْسَابُوْرِيُّ فيِ صَحِيْحَيْهِمَا الَّذَيْنِ هُمَا أَصَحُّ الْكُتُبِ الْمُصَنَّفَةِ

Hadits ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Nawawi dikeluarkan oleh 2 Imam Ahli Hadits yaitu Imam Bukhari dan Imam Muslim dan cukuplah keduanya sebagai petunjuk dan dalil akan keshohihan hadits ini. Perkataan Imam Nawawi bahwa kedua kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim adalah kitab hadits yang paling shohih, hal ini telah disepakati oleh ulama kita sebagaimana yang ditegaskan oleh Al-Hafizh Ibnu Ash-Sholah. Adapun perkataan Imam Syafi’i bahwa : “Saya tidak mengetahui kitab ilmu yang paling benar di dunia ini melebihi Kitab Al-Muwaththo”, itu beliau ucapkan sebelum ditulisnya Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

Dan hadits ini ditakhrij oleh banyak Imam hadits kecuali Imam Malik. Dan Ibnu Hajar mengatakan : “Telah keliru orang yang menyangka hadits ini ditakhrij pula oleh Imam Malik “.

Diantara Imam yang mengeluarkan hadits ini :

1. Imam Bukhari di 7 tempat dalam Kitab Shahihnya yaitu:

- Kitab Bad’il Wahyi,Bab I hadits no.1

- Kitab Al-Iman,Bab 41 hadits no.54

- Kitab Al-’Itq,Bab 6 hadits no.2529

- Kitab Manaqib Al-Anshar,Bab 45 hadits no. 3898

- Kitab An-Nikah,Bab 5 hadits no. 5070

- Kitab Al Aiman wa An-Nudzur,Bab 23 hadits no.6689

- Kitab Al Hiyal,Bab I hadits no.6953

2. Imam Muslim di Shahihnya,Kitab Al-Jihad Bab 18 hadits no.4904

3. Imam Abu Dawud di As-Sunan, Kitab Ath-Tholaq Bab 11 hadits no.2201

4. Imam An-Nasa’i di 3 tempat pada kitab Sunan beliau yaitu :

- Kitab Ath-Thoharah,Bab 60 hadits no.75

- Kitab Ath-Tholaq.Bab 24 hadits no. 3437

- Kitab Al-Aiman wa An-Nudzur ,Bab 19 hadits no.3803

5. Imam At-Tirmidzi di As-Sunan,Kitab Fadhoil Jihad Bab 16 hadits no.1647

6. Imam Ibnu Majah di As-Sunan,Kitab Az-Zuhud Bab 26 hadits no. 4227

7. Imam Ahmad di Musnad (1:25,43)

8. Imam Ad-Daruquthni dalam As-Sunan , Kitab Ath-Thoharah, bab An-Niyyah

(1:33:128)

9. Imam Al-Humaidi dalam musnadnya (1:28)

10. Imam Abu Dawud Ath-Thoyalisi dalam musnadnya (hal.9)

11. Imam Ath-Thahawi dalam Syarh Ma’any Al-Atsaar (3:96:4650)

12. Al Imam Ibnu Jarud dalam Al-Muntaqa, Kitab Ath-Thoharah Bab 24 hadits no.64

13. Al-Imam Ibnu Hibban dalam Shohihnya ,lihat Al-Ihsan (1/304)

14. Al Hafizh Al Iraqi dalam Taqribul Masanid,lihat Tharhu At-Tatsrib (2:2 )

15. Al-Imam Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al Kubro(1/41:298/2:14/4:112,235/5:39/6:331/7:341)

Lihat Fathul Bari (1:13) dan Abu Abdillah adalah Kunniyah dari banyak Imam di antaranya Imam Malik, Asy Syafi’i, Ahmad dan Bukhari, namun yang dimaksud di sini adalah Imam Bukhari. Wallahu A’lam.

Lihat: Jami’ Al Ulum wa Al Hikam(1:61)

Lihat: Al Minhaj (13:55)

Nailul Authar (1:168)

ibid (1:171)

Lihat: Al Minhaj Syarhu Nawawi (13:55), Syarhul Arbain oleh Ibnu Daqiq (hal 27),) dan Jamiul Ulum wal Hikam (1:61)

Lihat: Tharhu At Tatsrib (2:4)

Lihat Jami’ul Ulum wal Hikam (1:60) dan Fathul Bari (1:14)

Ibnu Hajar رحمه الله menuturkan : “Setelah saya mempelajari jalan- jalan periwayatan hadits ini sejak saya mempelajari hadits hingga sekarang ini saya belum mampu menyempurnakan hingga 100 orang dan saya belum menemukan jalan periwayatannya sebanyak itu (yaitu sampai 250 atau 700 orang sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama-pen)” Fathul Bari (

Syarhu Muslim Lin Nawawi (13:56)

Lihat Tadribur Rowi (2:928) dan An Nukat ‘Alan Nuzhah (hal. 209)

Lihat: Syarh Ibn Daqiq Al ‘Ied

Jamiul Ulum wal Hikam (1:75)

Fathul Bari (1:13)

Lihat: Ath Thabaqaat Al Kubro (2:11) dan At Ta’yiin Fii Syarhi Al Arba’in (hal 26)

Sariyyah adalah bagian dari pasukan yang diutus secara rahasia untuk memata-matai pasukan musuh yang jumlahnya sekitar 5-400 orang dan pasukan tsb tidak diikuti oleh Rosulullah r (Lihat:Al Qamus Al Muhith 4:494, An Nihayah 2:363 dan Al Mishbah Al Munir hal.275)

Diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Al Mustadrak (3:87 no. 4480) dan Muhammad bin Sa’ad dalam Ath Thabaqat Al Kubro (3:281)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil ‘Ilm wa Fadhlihi (2:947 no. 1810)

Lihat: Ta’liqaat ‘alaa Al Arba’in An Nawawiyah oleh Samahatu Asy Syaikh Al Utsaimin (hal.1)

HR. Bukhari (6923)

HR. Muslim dalam Shohihnya, Kitabul Fitan (no.2882)

Lihat : Jamiul Ulum wal Hikam (1:71)

Hilyatul Awliyaa (3:70)

ِDiriwayatkan oleh Al Khathib Al Baghdadi dalam Al Jami’ Li Akhlaq Ar Rowi (1:317)

Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyah Al Awliya (2:199)

(H.R.Abu Dawud dan selainnya dengan sanad yang shohih, lihat Irwaul Ghalil 5/33)

(H.R.Ahmad dengan sanad hasan, lihat Irwaul Gholil 5/33)

Lihat: Al Waabil Ash Shoyyib (hal.96)

Lihat : Quut Al Qalb oleh Abu Tholib Al Makki (1/47) dan Al Bahru Ar Roiq oleh Syaikh Ahmad Farid (hal. 131)

Diriwayatkan oleh Ad Darimi dalam Sunannya, Kitab Al Muqaddimah, Bab Karahiyah Al Akhdz Bir Ra’yi (204)

Lihat:Tafsir Al Baghawi 8:172

lihat tafsiran QS.2:284 dan nantikan penjelasannya secara detail insya Allah pada pembahasan hadits arbain no.37

Lihat sunan At Tirmidzi (2382)

Lihat ‘Ulum Al-Hadits-Ibnu Ash-Sholah( hal.19), An-Nukat ‘ala Kitab Ibnu Ash-Sholah (1:278,279) dan Tadribur Rowi (1:96)

Fathul Bari (1:14)

JADWAL TA'LIM HADITS


1. Senin (Ba’da Ashar)

Kitab Manaqib Al Anshor (Shohih Al Bukhari)

Mesjid Ulul Albab-Poltek Tamalanrea, Makassar

Pemateri : Ust. Muh. Yusran Anshar, Lc, MA

2. Senin (Ba’da Maghrib)

Syarah Al Arbain An Nawawiyah

Irsyad Kancil Emas Bangil

Pemateri : Ust. Agus Hasan Bashori, Lc, MAg

3. ٍSelasa (Pukul 7.00 pagi-selesai WITA)

Syarah Al Arbain An Nawawiyah

Mesjid Subul As Salam-Unismuh Makassar

Pemateri : Ust. Bahtiar Bahri, Lc

4. Rabu (Ba’da Ashar)

Kitab Al Isti'dzan (Shohih Al Bukhari)

Mesjid Al Ihsan-STIBA Manggala, Makassar

Pemateri : Ust. Muh. Yusran Anshar, Lc, MA

5. Rabu (Ba’da Maghrib)

Syarah Umdatul Ahkam

Mesjid Ar Rahmah Tabaria, Makassar

Pemateri : Ust. Harman Tajang, Lc

6. Rabu (Ba’da Magrib); Pekan II dan IV

Syarah Mukhtashar Asy Syamail Al Muhammadiyah

Mesjid Babul Jihad- Abu Bakar Lambogo,Makassar

Pemateri : Ust. Muh. Yusran Anshar, Lc

7. Rabu (Ba’da Maghrib); Pekan I dan III

Syarah Hishn Al Muslim (Kitab Dzikir dan Doa)

Mesjid An Nur-Sungguminasa,Gowa

Pemateri : Ust. Muh. Yusran Anshar, Lc, MA

8. Rabu (Ba’da Maghrib)

Kitab Bulugh Al Maram

Mesjid Ar Ridho,Jl. Jaksa Agung Suprapto, Gorontalo.

Pemateri : Ust. Supardi Liu, Lc

9. Rabu (Ba’da Maghrib)

Kitab Taudhihul Ahkam Syarah Kitab Hadits Bulugh Al Maram

Mesjid Al Amin, JL. Medokan Asri Barat  III BLOG MA IE/26 A,

Surabaya ( 60295)

Pemateri : Ust. Wafi Marzuqi Ammar, Lc, MA

10. Kamis (Ba’da Ashar)

Syarah Kitab Al Iman (Shohih Muslim)

Mushallah Fak. Pertanian Unhas

Pemateri : Ust. Bahtiar Bahri, Lc

11. Kamis (Ba’da Maghrib)

Syarah Kitab Al Lu'lu wal Marjan
Mesjid Darul Hikmah DPP WI Antang Raya. No. 48 Makassar

Pemateri : Ust. Muhammad Yusran Anshar, Lc, MA

12. Kamis (Ba’da Maghrib)

Syarah Kitab Al Jami’ (Bulughul Maram)

Mesjid SMP/SMA IT Wahdah

Pemateri : Ust. Lukman Hakim,Lc

13. Kamis (Ba’da Maghrib)

Syarah Al Arbain An Nawawiyah

Mesjid Muhajirin ITN, Malang

Pemateri : Ust. Agus Hasan Bashori, Lc, MAg

14. Jumat (Pkl 5.30-6.30 WIB)

Kitabul Buyu’ (Shohih Muslim)

Mesjid Nur Muthi’ah Kumis Kucing, Malang

Pemateri : Ust. Agus Hasan Bashori, Lc, MAg

15. Jumat (Ba’da Maghrib)

Syarah Hadits Kitab Umdatul Ahkam

Mesjid Chik Dilamyong, Kopelma Darus Salam, Aceh

Pemateri : Ust. Aswanto M.Takwi, Lc

16. Sabtu (Ba’da Maghrib)

Syarah Riyadh Ash Sholihin

Mesjid Wihdatul Ummah-Abdullah Dg.Sirua, Makassar

Pemateri : Ust. Muh. Yusran Anshar, Lc, MA

17. Ahad (Pkl. 16.00-17.15 WIB)

Jami’ul Ulum wal Hikam li ibn Rajab Al Hanbali

Mesjid Kampus UGM, Jogjakarta

Pemateri : Ust. Ridwan Hamidi, Lc, MA