Tampilkan postingan dengan label Tadwin As Sunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tadwin As Sunnah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Juli 2011

TARIKH PENULISAN ‘ULUMUL HADITS[1]
Bagian Kedua
Oleh: Abu Shafa Luqmanul Hakim
Bab Kedua: Sejarah Ringkas Perkembangan ‘Ulumul Hadits
Pasal Pertama: Abad Pertama – Abad Ketiga
          Pada zaman sahabat dan kibarut tabi’in hadits-hadits Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- belum ditadwin[2] [dibukukan], namun hadits-hadits tersebut terjaga di dalam dada para ulama kita dan tersebar lewat shahifah [lembaran] yang ditulis oleh mereka, adapun shahifah yang termasyhur pada masa itu adalah shahifah as-shaadiqah yang ditulis oleh Abdullah bin Amr bin ‘Ash –radhiyallahu ‘anhu-.
            Pada awal islam, Rasulullah melarang para sahabatnya untuk menulis hadits-hadits dari beliau, sebagaimana sabda beliau:
لا تكتبوا عنّي غير القرآن ومن كتب عنّي غير القرآن فليمحوه
Artinya: Janganlah kalian mencatat sesuatu dariku kecuali al-qur’an, barangsiapa yang menulis sesuatu dariku selain al-qur’an, maka hendaknya dia menghapusnya.[3]
Namun larangan hanya bersifat temporer dan tidak permanen, hal ini disebabkan dua hal pokok berikut ini:
A.     Kuatnya kemampuan kabilah arab dalam menghafal, pasalnya mayoritas dari mereka  buta huruf [tidak bisa membaca dan menulis][4], maka mereka cenderung mengandalkan daya ingat dalam berinteraksi.
B.     Kekhawatiran Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- akan bercampurnya al-qur’an dan hadits sehingga sulit untuk dibedakan[5], dan larangan ini tidak berlaku bagi sahabat yang mampu membedakan antara keduanya, misalnya dengan memisahkan antara catatan yang berisi ayat-ayat al-qur’an dan catatan yang memuat hadits-hadits Nabi.
Dan menguatkan pendapat diatas, datangnya riwayat-riwayat yang valid dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihin wasallam- yang dhahirnya memberi ijin para sahabat untuk mencatat hadits-hadits beliau, diantara riwayat tersebut adalah:

Rabu, 08 Juni 2011

 Oleh: Abu Shafa Luqmanul Hakim
Muqaddimah
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام علي رسوله الأمين وعلي آله وأصحابه الطاهرين ومن اهتدي بهداهم إلي يوم الدين, أما بعد :
          Adalah merupakan kesepakatan kaum muslimin bahwa al-Hadits merupakan sumber syariat islam kedua setelah al-Qur-an, karenanya mempelajari hadits-hadits Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- merupakan kewajiban sebagaimana mempelajari al-Qur-an[2], olehnya, demi menyempurnakan pengkajian kita terhadap hadits-hadits Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wasallam-, dan memudahkan dalam menelaah sunnah yang diwariskan oleh beliau, serta mampu memilah antara yang shahih dan yang dha’if dari hadits dan sunnah tersebut, maka dibutuhkan wasilah khusus yang bisa  merealisasikan hal tersebut, wasilah tersebut adalah ‘Ulumul Hadits.

Sabtu, 11 Juli 2009

TADWIN AS-SUNNAH

TADWIN AS-SUNNAH



(Oleh : Muhammad Yani Abdul Karim, Lc.)


I.MUQADDIMAH

Kedudukan As-Sunnah sangat tinggi dan agung dalam islam di mana ia merupakan sumber hukum dan syariat islam tertinggi setelah Al Qur'an Al-Karim. Bahkan, sebagai satu di antara dua bagian wahyu ilahi yang diberikan kepada Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- (bagian yang lain adalah Al qu'ran),yang dengannya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- menganjurkan ummatnya untuk menghafal dan meriwayatkannya(menyampaikannya) sebagaimana yang datang dari beliau,sebagaimana beliau menegaskan agar pengambilan hadits dari beliau shahih (tepat) dan akurat, tanpa tambahan ataupun pengurangan yang pada hakikatnya adalah kedustaan atas Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang pelakunya terancam neraka.

Senin, 08 Juni 2009

Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mengutus Nabi-Nya Muhammad shallallohu alaihi wa sallam dengan Jawami’ Al Kalim ( جوامع الكلم ), sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam :
بُعِثْتُ بِجَوَامِعِ الْكَلِمِ)) متفق عليه))
Aku diutus dengan Jawami’ Al Kalim “ [1]
Imam Az Zuhri rahimahullah mengatakan : “Yang dimaksud dengan Jawami’ Al Kalim adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengumpulkan bagi beliau shallallohu alaihi wa sallam urusan-urusan/ masalah-masalah yang banyak yang dahulu tertulis dalam kitab-kitab sebelumnya hanya dengan satu atau dua urusan/ masalah”. Ulama yang lain mengatakan : “Jawami’ Al Kalim adalah kalimat yang ringkas namun mengandung makna yang banyak, padat dan mendalam”.[2]
Jawami’ Al Kalim yang diberikan kepada Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam terdiri dari dua macam, yaitu :

1. Yang tercantum dalam Al Qur’an

Contoh : Firman Allah Azza wa Jalla:

(إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ} ( النحل : 90 }

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran” (QS. An Nahl : 90)

Sahabat yang mulia Abdullah bin Mas’ud radhiyallohu anhu menganggap ayat ini yang paling lengkap kandungannya dan luas cakupannya dalam Al Quran.[3]

Kata Imam Hasan Al Bashri رحمه الله tentang ayat ini : “Ayat yang satu ini tidak meninggalkan kebaikan kecuali dia (ayat ini) memerintahkannya dan tidak ada satu larangan pun kecuali dia (ayat ini) telah melarangnya”.[4]

2. Sabda-sabda Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam yang banyak tercantum dalam kitab-kitab hadits.

Dan jenis kedua inilah yang berusaha dikumpulkan oleh para ulama hadits dimana mereka berusaha memilih beberapa hadits beberapa hadits yang ringkas namun dianggap mampu mewakili sekian banyak hadits-hadits yang ada dan hadits-hadits yang dikumpulkan tersebut telah mencakup seluruh ajaran Ad Dien.Adapun ulama-ulama yang mengumpulkan hadits-hadits yang dianggap termasuk Jawami’ Al Kalim antara lain [5] :

1. Al Hafizh Abu Bakar bin As Sunni رحمه الله (murid Imam An Nasaai رحمه الله ). Kitabnya berjudul : “Al Ijaaz wa Jawami’ Al Kalim min As Sunan Al Ma’tsuroh ”.
2. Al Qadhi Abu Abdillah Al Qudho’iy رحمه الله , kitabnya berjudul : “As Syihab Fil Hikam wa Al Adaab”.
3. Al Khoththobi رحمه الله , beliau menyebutkan beberapa contoh dari hadits-hadits tersebut dalam kitabnya “ Gharib Al Hadits “
4. Al Imam Al Hafizh Ibnu Ash Sholah رحمه الله , beliau mempunyai majlis dimana beliau membacakan di dalamnya hadits-hadits yang dikatakan bahwa seluruh ajaran Ad Dien berputar dan berkisar dari hadits-hadits tersebut.Majlis tersebut terdiri dari 26 hadits yang beliau namakan “ Al Ahadits Al Kulliyah “

5. Al Imam An Nawawi رحمه الله , beliau mengambil hadits-hadits yang telah disebutkan oleh Ibnu Ash Sholah رحمه الله kemudian beliau menambahkannya hingga berjumlah 42 buah hadits dan beliau namakan kitabnya dengan “Al Arba’in “.

Perlu diketahui bahwa Al Imam An Nawawy رحمه الله bukanlah orang pertama yang mengumpulkan/menyusun kitab Al Arba’in sebagaimana beliau terangkan dalam muqaddimah kitab beliau : “Dan para ulama yang telah menyusun kitab Al Arba’in tidak terkira jumlahnya. Dan orang yang pertama kali saya ketahui menyusunnya adalah Abdullah bin Mubarak رحمه الله kemudian diikuti oleh banyak ulama lain diantaranya Muhammad bin Aslam Ath Thusi –seorang ‘Alim Rabbani-, Hasan bin Sufyan An Nawawi, Abu Bakar Al Ajuri, Abu Bakar Muhammad bin Ibrahim Al Ashfahani, Ad Daraquthni, Hakim, Abu Nu’aim Al Ashfahani, Abu Abdirrahman As Sulami, Abu Said Al Maliki, Abu Usman As Shobuni, Muhammad bin Abdullah Al Anshori, Abu Bakar Al Baihaqi, dan banyak lagi dari kalangan ulama terdahulu maupun belakangan رحمهم الله أجمعين .Kemudian diantara ulama itu ada yang mengumpulkan 40 hadits yang berkaitan dengan Ushuluddin (Pokok-pokok Ad Dien), Furu’ (Cabang-cabang) Ad Dien, Jihad, Zuhud, Adab dan ada pula dan ada pula tentang khutbah-khutbah. Dan kesemuanya berniat baik, mudah-mudahan Allah Azza wa Jalla meridhoi kesemuanya. Dan saya melihat pentingnya mengumpulkan hadits-hadits yang mencakup kesemua hal tersebut. Dan setiap hadits mengandung kaidah yang agung dari kaidah-kaidah Islam dan para ulama telah mensifatkan bahwa peredaran Islam berkisar pada hadits tersebut atau hadits tersebut adalah setengah dari Islam atau sepertiganya atau yang semacamnya ”. [6]

Kemudian beliau menutup muqaddimah Al Arba’in dengan perkataan : “Dan sepantasnya bagi setiap orang yang mengharapkan kesenangan akhirat untuk mengenal hadits-hadits ini karena kesemuanya mencakup hal-hal yang sangat penting dan penekanan terhadap seluruh ketaatan. Dan hal ini nampak bagi orang yang mentadabburnya ”.[7]

Kitab Al Arba’in yang ditulis oleh Imam Nawawy رحمه الله inilah yang akhirnya dikenal dan banyak dipelajari serta dihafalkan oleh para penuntut ilmu. Oleh karena itu banyak dari kalangan ulama kita baik yang terdahulu maupun yang belakangan menyusun kitab yang mensyarah (menjelaskan) makna-makna yang terkandung dalam hadits-hadits Al Arba’in An Nawawiyah, termasuk Imam Nawawi sendiri. Diantara mereka adalah :

1. Al Imam Ibnu Daqiq Al ‘Ied رحمه الله ; beliau adalah ulama hadits dan fiqh, guru dari Imam Adz Dzahabi رحمه الله , beliau wafat pada tahun 702 H.
2. Al Imam Najmuddin Ath Thufi رحمه الله ; salah seorang ulama ushul fiqh yang wafat tahun 710 H, kitab beliau berjudul “ At Ta’yiin Syarhu Ahaadits Arba’iin “.
3. Al Imam Ibnu Rajab Al Hanbali رحمه الله ; beliau adalah seorang ulama besar Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang bermadzhab fiqhi Hanbali, beliau termasuk murid terdekat Al Imam Ibnu Qayyim رحمه الله. Beliau wafat tahun 795 H. Kitab yang beliau tulis untuk mensyarah hadits-hadits Arba’in adalah : “Jami’ul Ulum wal Hikam “. Di dalam kitab ini beliau menambah hadits Arba’in dan menggenapkannya menjadi 50 hadits kemudian menjelaskan makna ke 50 hadits tersebut. Kitab yang beliau tulis ini merupakan rujukan utama dan yang terbaik dalam mensyarah hadits-hadits Arba’in An Nawawiyah
4. Al Hafizh Ibnul Mulaqqin رحمه الله ; beliau seorang ulama besar di bidang hadits yang merupakan guru dari Al Hafizh Ibnu Hajar رحمه الله dan beliau wafat tahun 804 H.
5. Al Hafizh Jalaluddin As Suyuthi رحمه الله ; beliau seorang ulama besar yang banyak menulis kitab dari berbagai disiplin ilmu. Beliau wafat tahun 911 H.
6. Al Allamah Abul Abbas Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Hajar Al Makki Al Hajar Al Haitami Asy Syafi’i ; Beliau wafat tahun 973 H dan nama syarah beliau :Fathul Mubin Lisyarhi Al Arba’in.

Adapun ulama kontemporer yang mensyarah Al Arbain juga sangat banyak, diantaranya :

1. Al Allamah Asy Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin رحمه الله (wafat tahun 1421 H)

2. Fadhilah Asy Syaikh Ismail bin Muhammad Al Anshori رحمه الله ; beliau salah seorang ulama dari kota Riyadh KSA dan penulis yang cukup produktif. Syarah beliau termasuk ringkas, berjudul : “At Tuhfah Ar Robbaniyah Fii Syarhi Al Arbain Haditsan An Nawawiyah “ dalam buku ini beliau mensyarah kedelapan hadits yang ditambah Imam Ibnu Rajab

3. DR. Mushtofa Al Bugha dan Asy Syaikh Mahyuddin Mastu keduanya menulis :Al Wafii Fii Syarhi Al Arbain An Nawawiyah . Buku ini diantara buku syarah yang terlengkap yang ditulis di zaman ini dan sangat bagus namun kadang masih memuat hadits-hadits yang lemah disamping tidak menegaskan manhaj Ahlissunnah terutama dalam masalah Asma wa Shifat

4. Asy Syaikh Nazhim Muhammad Sulthan yang berjudul Qawaid wa Fawaid Minal Arbain Annawawiyah. Buku ini sangat berkwalitas terutama karena mampu menutup kekurangan yang terdapat dalam kitab Al Wafi

5. ,Asy Syaikh Muhaddits Al Madinah Abdul Muhsin Al Abbad hafizhahullohu, syarah beliau dari pelajaran yang pernah beliau sampaikan di Mesjid Nabawi, judulnya : Fath Al Qawiyy Al Matin fi Syarhi Al Arbain. Beliau juga mensyarah 8 hadits tambahan yang disebutkan oleh Ibnu Rajab Hanbali

6. Ada juga beberapa ulama kita yang telah mensyarah Al Arbain namun masih dalam bentuk kaset, diantaranya : Syaikh Athiyyah Muh. Salim rahimahullohu, Syaikh Sholih Alu Asy Syaikh dan Syaikh Muhammad bin Sholih Al Munajjid hafizhohumullohu jami’an.


End Note :
[1] HR. Bukhari dan Muslim.

[2] Shohihul Bukhari (no. 7013) , lihat juga Fathul Bari (13:304)

[3] Lihat Tafsir Ibnu Katsir (2:643)

[4] Diriwayatkan oleh Baihaqi dalam Syu’ab Al Iman, baca juga : Jami’ Al Ulum wa Al Hikam (1:55) dan Ad Durr Al Mantsur

[5] Lihat Muqaddimah Ibnu Rajab dalam kitab beliau Jami’ Al Ulum wa Al Hikam (1:56)

[6] Muqaddimah Imam Nawawi dalam kitab beliau Syarh Matn Al Arbain An Nawawiyah (hal 6-7)

[7] Ibid (hal 8 )